Worldview
Banyak contoh yang bisa membuktikan bahwa pemikiran ummat Islam kini sedang dirasuki oleh worldview peradaban lain. Banyak cendekiawan Muslim atau “ulama” memuji habis Immanuel Kant, Karl Marx, Thomas S Kuhn, Derrida dan kawan-kawan, tapi mengkritik al-Ash’ari, al-Ghazzali, al-Shafi’I dan lain-lain. Ada pula yang ragu apakah Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, sedangkan ia percaya rukun Iman. Kini malah ada wanita Muslimah berjilbab, tapi protes mengapa Tuhan begitu maskulin. Malah tidak aneh jika seorang ahli tahajjud dengan keningnya yang hitam, juga seorang Marxist. Ia memahami makna Tawhid, tapu tidak tahu berfikir tawhidi. Continue reading ‘Worldview’
Filed under: Worldview | Leave a Comment
Tags: civilization, clash, darwin, derrida, epilog, framework, freud, huntington, islamia, kultural, marxist, maskulin, Worldview
Di Pakistan, Ahmadiyyah ialah institusi terlarang dan pengikutnya tidak dianggap bagian dari masyarakat Muslim. Penetapan warga Ahmadiyah di Pakistan sebagai non Muslim justeru dilakukan oleh pemerintahan yang tidak berafiliasi ke Islam ketika itu, yaitu pemerintahan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, ayah mendiang Benazir Bhutto.
Nah, ceritanya, hari Senin, 7 Januari 2008, Ustadz Syamsi Ali menerima kunjungan rombongan pengurus Ahmadiyah USA yang tergabung dalam sebuah organisasi Ahmadiyah Movement in Islam, Inc. Ustadz Syamsi Ali menerima mereka dalam kapasitasnya mendampingi staf PTRI New York, mewakili pemerintah, untuk mendengarkan keluhan dan uneg-uneg mereka. Abu A’la Al Maududi divonis sebagai ulama pembunuh oleh Ahmadiyyah.
Paling banter komentar yang muncul, Stop Pakistanisasi?? Atau malah merujuk ke anggapan sebagian orang-orang kafir yang mencap Islam sebagai aliran sempalan ?? Kalau begitu, heran nian, lantas apa yang menjadi pandangan hidup (kita, sebagai muslim) sebenarnya?
Berikut ialah tulisan lengkap beliau dikutip dari Hidayatullah dalam rubrik Kabar Dari New York. Continue reading ‘Ahmadiyah dan Religious Freedom; Out of Context!’
Filed under: Freedom | Leave a Comment
Tags: agama, ahmadiyyah, fatwa, Freedom, mui, nabi palsu, sesat, USA, wordlview
Lisensi untuk Membunuh Hamas
Rabu, 05 Desember 2007
Opini
Faisal Assegaf, Wartawan Tempo
Tidak semua yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga melalui media mencerminkan kebenaran. Inilah yang terjadi dalam konferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika Serikat, 27 November lalu. Memang benar tercipta komitmen bersama antara Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Kedua pemimpin negara yang bertikai itu sepakat memulai kembali perundingan yang mandek sejak tujuh tahun lalu. Bahkan mereka mengharapkan perdamaian bisa terwujud paling lambat akhir tahun depan.
Namun, semua itu dipaksakan. Continue reading ‘Lisensi untuk Membunuh Hamas’
Filed under: Palestina | Leave a Comment
Tags: as, fatah, hamas, merdeka, Palestina, zionis
Pada tanggal 25 Desember 2007, saat sedang berada di Palembang, saya menerima banyak SMS yang bernada prihatin, bahwa Prof. Dr. Din Syamsuddin, selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah, akan menghadiri acara Perayaan Natal Bersama (PNB) pada 27 Desember 2007. Selama di Palembang, saya tidak sempat mengecek kebenaran berita itu. Barulah pada Rabu (26 Desember 2007) pagi ini, saya sempat mengecek berita tersebut. Setelah menerima sebuah SMS tentang duduk cerita rencana kehadiran Din Syamsuddin dalam acara PNB tersebut, saya kemudian merasa perlu menulis artikel seputar PNB ini, untuk mengoreksi beberapa logika Din Syamsuddin. Sekitar tiga tahun lalu, pada 24 Desember 2004, saat tinggal di Kuala Lumpur, saya sudah menulis Catatan Akhir Pekan ke-83, dengan judul yang sama dengan artikel ini.
Bagi saya pribadi, pernyataan dan pemikiran Din Syamsuddin tentang PNB memang agak mengejutkan. Artikel ini sama sekali tidak bermaksud meragukan keimanan Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Saya kenal beliau sangat lama, dan sampai detik saya menulis artikel ini, saya masih percaya akan komitmen yang tinggi Din Syamsuddin sebagai seorang Muslim. Sekarang, saya juga duduk sebagai pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan di pengurus MUI Pusat. Tentu saya sebenarnya tidak ingin tulisan ini dibaca secara terbuka.
Akan tetapi, karena Din Syamsuddin sudah mempublikasikan pemikirannya secara luas dan terbuka, maka menjadi kewajiban saya untuk menjawab logika-logika Din Syamsuddin secara terbuka pula. Sebab, ini sudah menyangkut urusan Islam, bukan hanya urusan Muhammadiyah atau MUI. Juga, logika seperti ini, sudah sering dikemukakan oleh berbagai pihak. Jadi, ini adalah bagian dari kewajiban untuk melakukan taushiyah antar sesama Muslim. Dan ini sangat penting, karena kekeliruan pemikiran seorang pemimpin agama – apalagi yang bergelar Prof. Dr. — dapat berakibat fatal, karena dianggap sebagai rujukan kebenaran. Rasulullah saw bersabda bahwa ”Mimmaa akhaafu ‘alaa ummatiy zallatu ‘aalimin wa jidaalu munaafiqin fil Quraani.” (Termasuk diantara perkara yang aku khawatirkan menimpa umatku adalah tergelincirnya orang alim (dalam kesalahan) dan silat lidahnya orang munafik tentang Al-Quran.” (HR Thabrani dan Ibn Hibban). Saya berpendapat, bahwa dalam soal PNB ini, Pak Din Syamsuddin sedang tergelincir pemikirannya, dan mudah-mudahan bersedia meluruskannya kembali.
Situs www.detik.com, (24/12/2007 15:32 WIB), menulis berita berjudul ”Din Tidak Larang Hadiri Perayaan &Ucapkan Selamat Natal”. Ditulis dalam berita ini: ”Bagi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menghadiri seremonial Natal tidak seharusnya dihindari. Demikian pula dengan memberikan ucapan selamat Natal kepada kaum Kristiani. “Saya pribadi berpendapat fatwa MUI sejak zaman Buya adalah larangan menghadiri upacara Natal yang berdimensi ibadah dan keyakinan karena itu wilayah keyakinan masing-masing. Tetapi yang berbentuk seremoni tidak seharusnya terhindari,” kata Din. Continue reading ‘Mitos-Mitos tentang Perayaan Natal Bersama’
Filed under: Toleransi | Leave a Comment
Tags: intoleran, islam, katolik, kristen, munafik, natal, pluralisme, pnb, tasamuh, Toleransi
Cari
-
Blogroll